Saya tertegun membaca berita-berita yang menyiarkan kepergian Ayatullah Ali Khamenei oleh serangan brutal Amerika Serikat dan sekutunya, Israel. Jika memang benar, maka nama itu, untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan, mungkin tidak akan sering lagi disebut-sebut. Bukan untuk dilupakan tapi hanya dikenang sebagai sosok yang tak mungkin lagi disaksikan gerak-geriknya, langkah dan lambaian tangannya, senyuman penuh kasih dan suara lembutnya.
Di Taheran, di bawah kubah-kubah pirusnya yang megah, di lorong-lorong perumahan dan pasar yang sempit serta di perkampungan yang tenang dan sederhana, kabar kepergian Khamenei mungkin seperti kabut yang merambat. Terasa perlahan tapi jelas melahirkan mendung duka. Gugurnya Khameinei mungkin bukan sekadar perginya seorang tokoh. Ia merupakan simbol keteguhan. Di saat banyak negara memilih tunduk pada arogansi Barat yang pemaksa dan licik, Khamenei memilih berdiri dengan kepala tegak.
Ia mewarisi darah leluhurnya, Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib yang percaya bahwa tekanan demi tekanan yang ditimpakan tidak berarti harus bungkam dalam menyuarakan kebenaran. Khamenei mengajarkan kepada bangsanya bahwa menjaga kedaulatan, meskipun harus ditebus dengan kematian sekalipun, adalah pilihan yang wajib diambil. Ketika dunia beramai-ramai mencoba menggoyahkan pendiriannya dengan menghembuskan isu Syiah dan Sunni, Khamenei memperlihatkan dirinya sebagai ulama yang mampu menunjukkan persamaan-persamaan yang harus dijaga bersama.
Iran adalah gudang terakhir dari sejarah kebesaran peradaban masa lalu Islam. Dan Khamenei, dengan seluruh perhatian dan dedikasinya berusaha menjaga gudang itu meskipun bangsa-bangsa serumpun di sekitarnya sama sekali tidak peduli pada usahanya. Tubuhnya memang renta karena termakan usia. Tetapi ia menolak untuk takluk pada kekuatan luar yang mencoba menguasai gudang miliknya. Ia seakan-akan berkata bahwa martabat bangsanya tidak akan pernah ia gadaikan, tak peduli seberapa besar sanksi ekonomi yang ditimpakan.
Khamenei mungkin memang sudah tiada. Tetapi ia pergi meninggalkan sebuah tatanan bangsa yang tak sudi menunduk. Ia mengajarkan kepada masyarakatnya bahwa kata-kata leluhurnya, “Sampaikan yang benar walau pahit,” adalah kalimat kunci yang harus dipegang erat meski meriam diarahkan pada dadanya, meski kematian harus menjadi taruhannya. Kini, sosok yang begitu dicintai oleh orang-orang dewasa hingga bocah kecil itu telah menuntaskan perjalanan hidupnya. Tetapi ia meninggalkan peta yang akan kembali digunakan oleh generasi lain untuk meneruskan perjalanan perjuangannya.
Saya tertegun membaca berita-berita yang menyiarkan kepergian Ayatullah Ali Khamenei oleh serangan brutal Amerika Serikat dan sekutunya, Israel. Jika memang benar, maka nama itu, untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan, mungkin tidak akan sering lagi disebut-sebut. Bukan untuk dilupakan tapi hanya dikenang sebagai sosok yang tak mungkin lagi disaksikan gerak-geriknya, langkah dan lambaian tangannya, senyuman penuh kasih dan suara lembutnya. Kita tidak akan pernah melihat lagi, seorang lelaki renta, yang secara sadar menolak untuk menunduk pada institusi negara hebat manapun yang nyata-nyata tidak memiliki etika dan penghargaan pada kedaulatan bangsa dan negaranya.


