Filsafat Tahun Baru: Sebuah Refleksi Atas Pertanyaan Apa yang Baru di Tahun Baru?

Oleh: Salman Rusydi Anwar*

Apa yang baru di setiap tahun baru? Kenapa harus dirayakan? Apa muatan ide paling fundamental di balik merayakan tahun baru? Setiap orang bisa memberi jawaban dari pertanyaan di atas. Ada berbagai perspektif yang dapat digunakan dalam menjawab pertanyaan itu mulai dari -mungkin- perspektif agama, politis, moral dan lainnya. Tapi mari berpikir dengan sedikit lebih mendalam mengenai pertanyaan pertama; apa yang baru di tahun baru?

Di setiap penghujung Desember sampai awal Januari, waktu tetap berjalan sama seperti biasa. Bumi tetap berputar pada porosnya. Waktu seakan nyaris tak berubah. Suara terompet yang terdengar di mana-mana, gemerlap kembang api dan suara sirine yang meraung-raung sepertinya tidak benar-benar menunjukkan sisi kebaruan apa-apa. Semua itu bisa dilakukan kapan saja. Kalau pun gemuruh suara-suara itu dijadikan pertanda bagi adanya peralihan dari tahun sebelumnya ke tahun baru, lantas apa pengaruh dari peralihan itu?

Orang-orang gegap gempita dalam suasana yang serba sesaat. Sesudah itu keadaan akan kembali sama seperti biasa, tak ada yang baru kecuali angka-angka dalam kalender. Apakah angka-angka itu dapat mengubah keadaan? Tidak. Matahari terbit dan terbenam seperti biasa. Orang-orang bekerja seperti biasa. Anak-anak kembali bersekolah seperti biasa. Para ibu berbelanja seperti tahun-tahun yang sudah lewat. Lalu apa yang baru di tahun baru? Mari pikirkan bersama beberapa hal.

Pertama, pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan dan kita hadapi hari ini secara tidak langsung adalah pendahuluan dari masa lalu? Atau boleh saja kita katakan bahwa ‘hari ini adalah masa lalu yang dijalani lebih awal’. Mengapa demikian? Sebab setiap gerak-gerik kita, tingkah laku kita dan semua yang kita perbuat sudah sempurna menjadi masa lalu sejak satu detik kemudian, satu menit, satu jam dan seterusnya. Dengan demikian, tahun baru yang dirayakan pada jam 00:00 seketika menjadi sesuatu yang memasa lalu pada 00:01 berikutnya. Secepat itukah? Memang secepat itu.

Kedua, jika istilah tahun baru merujuk pada waktu, maka ia sepenuhnya bergantung pada kita. Ada ungkapan dalam Bhagavad Gita yang berkata, ‘Tidak pernah ada waktu di mana kami tidak ada, dan tidak akan ada waktu di mana kami tidak ada.’ Artinya kebermaknaan waktu justru karena eksistensi kita yang memikirkan dan menandainya untuk berbagai keperluan dan aktivitas. Tahun baru tidak akan memiliki esensi apa-apa jika tidak ada perubahan kualitas nilai dari semua aktivitas. Sebab kata ‘baru’ secara tidak langsung adalah keadaan lepas ‘dari’ menuju ‘ke’ (dari keadaan satu ke keadaan satu) dan identik dengan peralihan. Yang mesti berubah dari peralihan, yang dari menuju ke adalah cara kita berpikir dan bertindak di dalam waktu, karena waktu dari tahun yang lewat ke tahun-tahun penggantinya nyaris tidak benar-benar baru.

Ketiga, Agustinus, seorang filsuf di awal abad pertengahan Eropa membagi waktu menjadi dua bagian; waktu subyektif yang kita rasakan di dalam batin dan hati sanubari kita sendiri dan waktu obyektif yang tertera di dalam jam, kalender yang berisi keterangan hari, tanggal dan seterusnya. Baik waktu subyektif dan obyektif keduanya berjalan dengan logikanya sendiri-sendiri. Orang yang menunggu macet selama 1 jam dengan orang yang menunggu kedatangan kekasihnya selama 1 jam memiliki resonansi yang berbeda di dalam pikiran. Padahal waktunya sama-sama 1 jam. Yang berbeda dari contoh di atas adalah waktu subyektifnya, sementara waktu obyektifnya sama saja.

Di masa awal perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa, pandangan waktu subyektif ini tak lagi digunakan. Yang dianggap penting adalah waktu obyektif. Perasaan dan akal manusia akan waktu disingkirkan sampai kemudian Immanuel Kant, sang filsuf pencerah dari Jerman mengkritik dengan mengatakan bahwa waktu bukan hanya yang ada di luar diri manusia (waktu obyektif) tapi juga bagian dari manusia, berada di dalam pikiran manusia, bagian dari pikiran manusia dan membantu manusia sampai pada pengetahuannya tentang dunia.

Karena itu, waktu bisa dikatakan bermakna karena ada akal pikiran kita yang dihidupkan di dalamnya. Sebaliknya waktu menjadi biasa saja kalau akal pikiran kita tidak hidup di dalamnya. Perdebatan ini kemudian melahirkan satu istilah ‘aku dan waktu’ yang menggambarkan bahwa ada kesalingberhubungan antara pikiran dengan waktu. Tidak pernah ada waktu di mana kami tidak ada, begitu sebagaimana dalam Bhagavad Gita di atas.

Dengan demikian, tahun baru akan menjadi waktu obyektif yang hanya berurusan  dengan nama bulan, tanggal, hari dan nama tahun jika ia lepas dari akal kita untuk memikirkannya. Jadi, akal dan pikiran kitalah yang bekerja mewujudkan makna ‘baru’ bagi tahun. Sebab, jika kita percaya pada pendapat yang mengatakan bahwa waktu adalah siklus yang berulang maka kata tahun baru sudah kehilangan makna substantifnya justru saat dikatakan sebagai tahun baru. Bukankah tidak ada yang baru dalam sesuatu yang terjadi berulang? Sebaliknya kalau kita percaya waktu adalah linear, maka sama seperti penjelasan di awal tadi bahwa apa yang dikatakan baru detik ini telah memasa lalu pada detik berikutnya.

Tahan dulu mengucapkan selamat tahun baru sebelum menemukan jawaban atas pertanyaan; apa yang fundamental baru di tahun baru?

*Penulis adalah dosen IAINU Wagirpandan Kebumen dan kontributor freelance MAN 4 Kebumen

Related Post