Kedua mataku terbelalak ketika berjumpa dengan sebuah hadis tentang orang-orang mujahirin (awas bacanya yang teliti jangan sampai dibaca muhajirin). Hadis itu berbunyi begini; Rasulullah Saw bersabda, “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya dia menceritakannya….”
Derajat hadis ini tidak perlu kalian ragukan validitasnya. Ia diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim sehingga mendapat sebutan muttafaq ‘alaih. Selintas tidak ada yang aneh dari hadis tersebut. Hanya saja keanehannya mulai terasa ketika benakku dihantui pertanyaan-pertanyaan liar seperti ini:
Apa alasan logisnya orang yang menceritakan dosa dan kesalahannya sendiri justru tidak diampuni? Bukankah kesalahan yang diungkapkan itu bukan kesalahan orang lain, bukan aib orang lain tapi pure kesalahan diri kita sendiri? Bukankah menceritakan kesalahan diri sendiri adalah sebentuk kejujuran yang harusnya justru dihargai? Bukankah dengan menceritakan kesalahan diri sendiri secara tidak langsung menjelaskan bahwa kita sebenarnya memang tidak sesempurna yang dilihat orang?
Aku mencari hadis-hadis yang serupa dan hasilnya rata-rata menjelaskan bahwa seseorang yang menceritakan aib dan kesalahan orang lain maka Allah akan membuka aib si pencerita. Demikian juga orang yang menutup aib kesalahan orang lain atau tidak menceritakannya kepada siapa pun maka Allah pun akan menutup aibnya kelak di akhirat.
Semua hadis-hadis itu konteksnya satu; larangan menceritakan aib dan kesalahan orang lain. Semuanya berkaitan dengan kesalahan dan aib orang lain. Tapi kenapa pula orang yang menceritakan aib kesalahannya sendiri justru mereka diancam untuk tidak diampuni? Apa reason dari semua itu?
Malam semakin beranjak larut. Di luar sesekali terdengar suara burung hantu yang sedang bercengkerama dengan sesamanya. Aku menghirup kopi yang sudah dingin sambil membuat beberapa peta ingatan tentang dampak dari sebuah perbuatan seseorang bagi orang lain di sekitarnya.
Peta ingatan pertama. Aku mengingat pada beberapa puluh tahun yang silam tentang keburukan yang pernah aku lakukan saat masih duduk di bangku sekolah. Contohnya bolos sekolah, bolos masuk kelas saat pelajaran salah seorang guru. Ingatan itu menyingkap sebuah sosok nama tertentu. Sebut saja si A. Saya bolos bukan karena saya ingin bolos tapi karena saya mengetahui bahwa si A bercerita kalau ia pernah bolos ketika jam pelajaran si guru tadi. Aku berpikir bahwa tidak apa-apa kalau aku bolos karena si A juga pernah bolos. Intinya, dorongan untuk bolos masuk kelas lahir karena si A tadi.
Sekarang coba kalian ingat. Pernahkah kalian melakukan sebuah tindakan buruk hanya karena kakak kelas, kakak kandung, atau teman akrab bercerita bahwa mereka juga pernah melakukan keburukan sehingga kalian terpengaruh atau ingin mengikuti mereka yang pernah melakukan keburukan yang sama?
Dari peta ingatan ini, jawaban atas pertanyaan kenapa mujahirin tidak diampuni sedikit mulai ada gambaran.
Dalam psikologi ada istilah Bandwagon effect, yaitu fenomena psikologis dan sosial di mana seseorang cenderung mengikuti tren, perilaku, atau opini populer hanya dengan alasan ‘karena banyak orang lain melakukan maka aku pun akan melakukan hal yang sama.’ Pertanyaannya adalah apakah fenomena mengikuti perilaku tertentu harus menunggu perilaku itu dilakukan oleh orang banyak dulu atau tidak?
Jawabannya adalah tidak harus menunggu orang banyak. Karena kata ‘banyak’ disitu tidak berhubungan dengan kuantitas melainkan pada seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dan ini bisa terjadi meski hanya dilakukan oleh satu orang saja. Faktanya, lihat bagaimana seorang influencer, meski hanya sendiri, bisa mempengaruhi ribuan orang. Konon pesepak bola Ronaldinho, model potongan rambutnya yang kuncung diikuti oleh jutaan orang.
Maka sampai di sini bisa dipahami bahwa tidak diampuninya mujahirin (orang yang melakukan suatu keburukan atau dosa dan menceritakannya kepada orang lain) disebabkan karena dengan sebab dia bercerita itu, dimungkinkan ceritanya itu dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan dosa dan kesalahan yang sama. Cerita dia seakan seperti sebuah motivasi dan dorongan yang menjadikan orang lain juga tertarik melakukan dosa dan keburukan yang sama. Dia bercerita akan dosa dan keburukannya seakan-akan dia sedang promosi.
Mereka, yang mendengar ceritanya, bila iman dan kemampuan nalarnya dibawah 1 GB pasti akan berpikir, “Nggak apa-apa juga sih melakukan dosa ini, keburukan ini, dia saja melakukan.” Nahtuu.



