Dialog Soal Puasa Sebagai Limitasi

Keisengan Cak Ros sudah sampai pada tingkat kesablengan, ketika suatu waktu dia mendatangi Ki Raimundegleg yang sudah dianggap sebagai guru spiritualnya.

“Guru, aku ada pertanyaan seputar puasa,” katanya sambil menyalakan sebatang rokok.

“Bertanyalah,” tantang Ki Raimundegleg dengan santainya.  

“Dalam Qur’an Tuhan berfirman, ‘wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Menurutku, dalam ayat di atas, ada lima kata kunci yang dapat digunakan untuk memahami logika puasa, yaitu kata beriman, diwajibkan, berpuasa, orang sebelum kamu dan bertakwa. Kita coba berangkat dari tiga kata kunci pertama; iman, diwajibkan, berpuasa. Kata-kata ‘diwajibkan berpuasa’ secara tegas ditujukan kepada mereka yang ‘beriman’ kan.”

“Betul.”

“Pertanyaannya; kenapa hanya orang beriman saja yang diwajibkan puasa? Jika pertanyaan itu dibawa dalam paradigma fikih, jawabannya jelas; karena iman menjadi sebab sahnya puasa. Orang yang tidak beriman, kalau mereka berpuasa, maka puasanya dihukumi tidak sah. Sampai di sini jelas bahwa iman adalah syarat utama sahnya berpuasa,” kata Cak Ros bersemengat.

“Iya, lalu?”

“Nah, ini! Apakah orang tidak beriman itu salah kalau mereka berpuasa?” tanya Cak Ros.

“Tidak salah. Tapi tidak sah puasanya kalau mengikuti pernyataanmu tadi yang berdasarkan paradigma fikih itu,” jawab Ki Raimundegleg.

“Oke. Kalau memang tidak salah tapi tidak sah, lalu siapa yang berkepentingan dengan sah-tidak sahnya puasa. Kalau dikatakan yang berkepentingan dengan sah tidak sahnya puasa itu Allah, jelas itu bertentangan dengan tauhid karena Allah seakan butuh pada sesuatu yang bernama sah. Tapi kalau dikatakan yang berkepentingan dengan sahnya puasa itu manusia, bagaimana menjelaskannya. Bagaimana akal kita memahami bahwa manusia butuh sahnya puasa. Bukankah pada saat berpuasa, rata-rata manusia hanya butuh pada berbuka puasa. Jangankan masalah sah atau tidak sah, soal diterima atau tidak puasanya, mereka seakan tidak peduli. Yang penting butuh datangnya azan magrib dan ada makanan.”

“Super sekali. Pancen top pikiranmu bikin gara-gara,” kata Ki Raimundegleg sambil terkekeh.

“Aku jawab satu persatu,” lanjut Ki Raimundegleg. “Iman di situ bukan hanya jadi sandaran fikih yang melahirkan konstruksi hukum bahwa puasa itu baru sah jika syaratnya terpenuhi, yaitu iman tadi. Tapi iman di situ juga harus jadi alasan kenapa kamu mau repot-repot berpuasa. Iman kan kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan bahwa Dia ada dan memberi perintah. Kepercayaan itu membentuk sikap dan perilaku. Sekarang aku tanya; kenapa kamu tidur?” tanya Ki Raimundegleg.

“Ya tentu saja karena saya ngantuk,” jawab Cak Ros.

“Berarti kamu yakin bahwa untuk menghilangkan kantuk, kamu perlu melakukan tidur. Adakah cara lain untuk menghilangkan kantuk selain tidur?”

“Tidak ada,” jawab Cak Ros setelah agak lama berpikir.

“Itu artinya, ketika kamu melakukan tidur, mau beranjak tidur, itu kamu lakukan karena kamu yakin bahwa tidur bisa menghilangkan kantuk. Itu artinya keyakinanmu membuatmu melakukan suatu tindakan. Tuhan hanya mewajibkan orang beriman untuk berpuasa, sebab dengan iman itulah mereka mau melakukan puasa tanpa beban, tanpa merasa terpaksa dan seterusnya. Seperti orang mau berangkat tidur. Mereka los saja, tanpa beban saat mau tidur. Mengapa bisa begitu? Karena mereka yakin bahwa dengan tidur mereka tidak akan mengantuk lagi.”

“Baik guru. Pertanyaan saya atas penjelasan guru barusan adalah; bagaimana seandainya ada orang tidak beriman tapi mereka juga tanpa beban mau melakukan puasa? Bukankah salah teori yang menyatakan bahwa keyakinan dan kepercayaanlah yang membentuk sikap dan perilaku!?”

“Tidak mungkin mereka berpuasa tanpa didasari pada keyakinan akan sesuatu. Hanya saja keyakinan mereka ada pada hal lain, sesuatu yang lain selain Allah.”

“Lalu apa bedanya orang berpuasa yang didasari keimanan kepada Allah dan orang puasa yang didasari pada keyakinan pada selain Allah?” kejar Cak Ros.

“Perjelas dulu apa maksud keyakinan pada yang lain selain Allah itu?” kata Ki Raimundegleg.

“Misalnya untuk kesehatan dan kebugaran. Sekarang kan sudah ada metode puasa bagi yang ingin mengurangi kolestrol, berat badan dan lainnya.”

“Oh, kalau begitu berarti keyakinan mereka bahwa puasa bisa bikin sehat dan bugar itu yang mendorong mereka berpuasa. Dalam urusan puasa, tidak mungkin ada orang mau berpuasa tanpa didasari oleh sebuah faktor tertentu, entah itu keyakinan, harapan untuk mendapatkan sebuah manfaat dan lainnya,” jawab Ki Raimundegleg.

“Tunggu, guru. Apa maksud kata-kata guru dalam urusan puasa. Saya menangkap seakan ada pengkhususan,” tanya Cak Ros.

“Ya kan kita lagi bahas puasa, dull. Selain itu, memang benar bahwa dalam urusan puasa, bila tidak ada dasar iman, sangat sulit orang melakukan ibadah itu tanpa terbebani. Itu sebabnya Tuhan hanya menyerukan perintah puasa pada orang yang beriman, yang percaya pada-Nya bahwa Dia tidak hanya memerintahkan puasa tapi juga menyediakan pahala khusus bagi yang berpuasa.”

“Jika orang berpuasa karena ingin sehat dan bugar, berarti mereka berpuasa demi memenuhi keinginannya sendiri. Tapi ketika kamu berpuasa atas dasar iman kepada Allah, berarti kamu berpuasa demi memenuhi perintah-Nya, memenuhi ‘keinginan-Nya’. Berbuat sesuatu demi memenuhi perintah dan ‘keinginan’ pihak lain itu kan tidak mudah. Lebih-lebih puasa. Satu bulan lagi,” papar Ki Raimundegleg.

Cak Ros mengangguk. Lalu ia kembali melancarkan pertanyaan, “Apa tantangan terbesar dalam puasa sehingga ibadah itu hanya mungkin dilakukan atas dasar iman dan seruannya pun hanya ditujukan pada orang yang beriman?”

“Limitasi,” jawab Ki Raimundegleg singkat.

“Maksudnya?”

“Puasa itu, katakanlah sebagai ‘prosedur’ Tuhan untuk menciptakan kesadaran limitasi bagi manusia. Dalam diri manusia itu ada nafsu. Kecenderungan nafsu adalah melampiaskan. Dengan puasa, Tuhan melimitasi nafsu, membatasinya seketat mungkin sehingga puasa itu sendiri pada akhirnya bermakna kemampuan mengendalikan di tengah-tengah keinginan melampiaskan. Kemampuan mengendalikan ini yang memungkinkan manusia tetap sebagai manusia, bukan buaya, singa, babi dan lainnya.”

“Coba kamu perhatikan,” lanjut Ki Raimundegleg, “saat puasa, orang bukan sekadar dilarang tapi diharamkan makan, minum, merokok, melakukan hubungan suami-istri, selama seharian. Padahal, selama sebelas bulan lainnya, bisa dikatakan kita sah-sah saja melampiaskan keinginan pada hal-hal itu. Lalu selama satu bulan, yang biasanya kita bisa makan lima kali sehari, merokok berbatang-batang justru dibatasi seketika itu juga. Kalau bukan iman lalu kekuatan apa lagi yang bisa membuat manusia bertahan untuk tetap berpuasa.”

“Limitasi itu penting agar manusia mampu memahami bahwa yang tidak memahami batasan-batasan sudah pasti akan selalu melampiaskan. Dalam hal apa pun, jika dorongannya untuk melampiaskan, akibatnya sudah pasti buruk. Pernahkah kamu mendapatkan kata-kata ‘melampiaskan’ digunakan untuk sesuatu yang positif?” tanya Ki Raimundegleg.

Cak Ros, terdiam. Sampai sekarang.

Related Post