Tanpa Harus Berpikir Menang, Setiap Harapan Layak Diperjuangkan

Oleh: Salman Rusydi Anwar*

Sasa menyeruput kopinya yang masih hangat di dalam kafe sederhana dekat sekolahnya sore itu. Kenangannya sepuluh tahun lalu kembali mengalir ke dalam benaknya. Di tempat duduknya yang sekarang ia tempati itulah, sekitar sepuluh tahun yang lalu, segala hal berubah dalam pikirannya. Semangat dan keyakinan dirinya tumbuh di saat ia hampir kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri dan nyaris membuat masa depannya runtuh.

***

            Sasa baru saja ingin meninggalkan tempat duduknya ketika tiba-tiba Aybel memanggilnya dari halaman kafe sederhana dekat sekolah mereka. Setelah mematikan motor dan meletakkan helmnya, Aybel bergegas mendekati Sasa yang masih berdiri di samping kursi. Gadis itu menatap Aybel, nyaris tanpa perasaan sama sekali.

“Sudah mau pulang, Sa?” tanya Aybel.

Sasa mengangguk. Pelan. Tanpa semangat.

“Jangan buru-buru pulang ya. Please. Duduk lagi deh, pesen minum lagi, nanti aku yang traktir. Kebetulan ada sesuatu yang perlu aku obrolin sama kamu.”

“Penting!?”

“Mungkin buatmu tidak, tapi bagiku penting. Mau yah!?” rayu Aybel dengan senyum khasnya.

Meski terpaksa, Sasa memenuhi permintaan Aybel. Lagi pula, ia sudah sering menghabiskan waktu bersama teman satu sekolahnya itu. Meski beda kelas, Aybel baginya lebih dari sekadar teman satu sekolah. Dan hanya itu satu-satunya alasan yang membuatnya mau duduk kembali memenuhi permintaan Aybel.

Setelah pesanan mereka datang, Aybel yang mengambil inisiatif untuk membuka pembicaraan. Dan seperti biasanya, Aybel yang tidak suka basa-basi, langsung mengajukan pertanyaan yang membuat Sasa sedikit terkejut;

“Jadi benar Sa, kamu mau pindah sekolah?” tanya Aybel.

Sasa menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. “Benar, Bel,” jawabnya, ‘aku sudah mengambil keputusan dan menurutku keputusan yang aku ambil sudah sangat tepat.”

“Alasannya!?”

Sasa kemudian bercerita awal mula kejadian yang membuatnya berpikir untuk pindah sekolah. Ia merasa begitu jauh tertinggal dari teman-temannya. Di kelas, Sasa melihat hampir semua teman-teman perempuannya jauh melampaui dirinya dalam bidang prestasi. Sasa merasa kalau hanya dirinya sendiri yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya saat diberikan penghargaan oleh kepala sekolah ketika mendapatkan prestasi ini dan itu.

“Kamu tahu kan, bagaimana si Susan, Ayu, Lita, Febri, Ratih dan semua anak-anak perempuan di kelasku pernah mendapatkan penghargaan karena menang lomba macam-macam. Hanya aku anak perempuan di kelasku yang belum pernah. Jujur aku malu, minder.”

“Jadi hanya gara-gara itu kamu memutuskan untuk pindah?”

Sasa mengangguk.

“Di kelas, aku juga belum pernah lo Sa mendapatkan prestasi lomba-lomba. Padahal kamu tahu sendiri kan, penyumbang piala terbanyak untuk sekolah tahun kemarin saja itu dari kelasku. Tapi aku tidak berpikir untuk pindah.”

“Ya, tapi masalahnya aku tidak bisa seperti kamu, Bel.”

“Bukan masalah kamu bisa seperti aku atau tidak, Sa. Tapi kamu terlalu membandingkan diri dengan teman-teman sekelasmu. Kamu terlalu memandang mereka lebih sampai kamu selalu merasa kurang di depan mereka. Kamu melupakan kelebihan kamu sendiri karena terlalu fokus pada kelebihan orang lain.”

Sasa diam. Ia berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Aybel, temannya yang kutu buku itu.

“Ayo dong, aku tahu bagaimana kamu, Sa, apa kelebihan kamu,” lanjut Aybel. “kamu hanya perlu merenungkan dan mengenali dirimu sendiri apa adanya, mengenali bakat dan kemampuanmu meskipun tidak diperlukan piala penghargaan untuk itu. Oya, kamu baca ini deh,” kata Aybel sambil mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan membuka sebuah halaman di mana ada sebaris kalimat dengan stabilo warna hijau berbunyi; Hidup yang Tidak Direnungkan Tidak Layak Dijalani.

            “Itu kata-kata Socrates, Sa. Konon kata-kata itu dia ucapkan di depan pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati kepadanya karena dia dituduh tidak taat pada Tuhan.”

Pandangan Sasa tidak berpindah dari kalimat itu. Ia mencoba memahami pesannya sambil juga berusaha menyadari apa sebenarnya kemampuan yang ia miliki selama ini seperti kata-kata Aybel tadi.

“Kamu adalah kamu, Sa, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Begitu juga aku. Kita punya tujuan hidup, punya motivasi, punya harapan yang bisa diperjuangkan tanpa harus menjadi pemenang,” tegas Aybel.

*Penulis adalah kontributor freelance MAN 4 Kebumen

Related Post